Kelemahan Genose Sebagai Deteksi Covid

Diciptakannya GeNose sebagai pendeteksi COVID-19 ini tentu menjadi harapan baru di tengah pandemi. Dengan alat yang lebih akurat, efisien, dan hasil yang keluar lebih cepat, tim medis dan masyarakat tentu semakin dimudahkan. Seperti dikutip dari situs resmi UGM, GeNose adalah alat yang dirancang untuk mendeteksi serta mendiagnosis apakah seseorang terinfeksi coronavirus atau tidak. Namun, ada harga pada kantong plastik GeNose yang digunakan untuk pernafasan orang pada kepentingan mendeteksi penularan virus corona. FAJAR.CO.ID — Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan berharap alat pendeteksi Covid-19 melalui embusan napas GeNose tidak hanya di sektor transportasi saja.

Namun, selain PCR dan fast test, ada beragam jenis tes COVID-19 lain mendeteksi penularan virus corona dalam tubuh seseorang sebagai berikut. Menurut dia, GeNose ini dapat menambah opsi bagi masyarakat untuk melakukan pengecekan kesehatan selain tes fast antigen dan PCR, yang menjadi syarat perjalanan transportasi kereta api jarak jauh. GeNose mampu mengidentifikasi virus corona lebih cepat, bukan dengan memeriksa cairan dari dalam tubuh, tetapi mendeteksi nafas seseorang. Alat ini mendeteksi unstable organic compound yang terbentuk karena infeksi Covid-19, dan keluar bersama napas.

Untuk itu, dilansir dari Tempo, pasien satu jam sebelum pengetesan dilarang mengkonsumsi alkohol. Selain itu, pasien diizinkan untuk makan satu jam sebelum pengetesan namun disarankan tidak mengkonsumsi makanan dengan aroma sensitif seperti jengkol, durian, juga petai. Lebih lanjut Ganjar berharap, dengan penggunaan Genose juga akan semakin cepat penanganan kasus positif di Jateng. Karena, akan semakin banyak yang terdeteksi dan semakin mudah perawatannya. Kemudian setelah kantong penuh, kantong dikunci agar udara di dalamnya tidak keluar. Kantong itu lalu diserahkan kepada petugas untuk dianalisis menggunakan alat GeNose C19.

Kelemahan genose sebagai deteksi covid

Perlu diketahui, GeNose tidak mendeteksi keberadaan virus corona di dalam tubuh secara langsung. Melainkan mendeteksi partikel atau senyawa yang memang secara spesifik akan berbeda jika terjadi atau dikeluarkan oleh orang yang mengidap COVID-19. GeNose merupakan jenis tes COVID-19 yang dilakukan melalui embusan napas untuk kemudian disimpan dalam kantung udara. Setelah itu, kantung udara dihubungkan ke alat GeNose yang menggunakan teknologi canggih, yaitu Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan . Pada awal 2021, Satgas Penanganan COVID-19 baru menerbitkan surat edaran terkait perpanjangan ketentuan perjalanan orang dalam negeri.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan GeNose akan dipasang di seluruh stasiun kereta api. Sampai saat ini, uji profiling GeNose sudah dilakukan dengan memakai 600 sampel data valid di RS Bhayangkara dan RS Lapangan Khusus COVID-19 Bambanglipuro, Yogyakarta. GeNose terhubung dengan sistem cloud computing agar mendapat hasil diagnosis yang real Judi Online time. GeNose buatan UGM juga diklaim mampu bekerja paralel melalui proses diagnosis yang terpusat di dalam sistem. Menurutnya, pernafasan yang masuk ke dalam kantong plastik dimasukkan pada alat penyaring untuk mendeteksi jenis pernafasan. Kemudian, bisa muncul enam warna, yakni hijau, kuning, merah, orange, biru, merah muda, dan hitam.

Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset dan Teknologi Indonesia mengatakan, “Hasilnya cukup cepat dan saat ini sedang divalidasi akurasi perkiraannyaa dari validasi yang dilakukan lebih dari one hundred pasien itu mencapai ninety five persen. Jadi sangat tinggi dan sangat praktis dan satu lagi relatif murah mungkin Rpp15.000 per tes kira-kira,” ujarnya. Perkembangan GeNose ini yang ternyata sudah diteliti oleh UGM sejak tahun 2008 silam. Kemudian pada tahun 2015 – sudah juga dilakukan uji coba pembuatan alat deteksi yang berbasiskan GeNose ini untuk deteksi TBC.

“Semoga ke depannya dapat diproduksi secara massal dan dapat terus dikembangkan sehingga tingkat akurasinya akan semakin meningkat. Kita akan terus memperbanyak penggunaan GeNose untuk kepentingan pelayanan publik. Tidak hanya untuk perjalanan, tetapi juga bisa digunakan di tempat yang lain yang sangat membutuhkan,” ucap MenkoPMK. Meski demikian, hal ini sudah dapat diatasi dengan sistem ‘pendeteksi udara’ yang sudah dipasang di mesin GeNose. Jadi, sebelum digunakan – alat akan mendeteksi kondisi udara di lingkungan sekitar, apakah kualitas udara cocok atau tidak.

Kemudian, knowledge yang didapat diolah dengan synthetic intelligence untuk pendeteksian serta pengambilan keputusan. Metode tes yang satu ini sudah tersedia di beberapa stasiun dan terminal sejak 5 Februari 2021 silam. Atas dasar itu, Menhub Budi dan segenap pimpinan memutuskan jika GeNose akan mulai digunakan pada transportasi umum, utamanya dalam membantu upaya 4 T . Untuk tahap awal, KAI menyediakan layanan pemeriksaan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Yogyakarta.

Dengan adanya produk dalam negeri seperti GeNose dan ventilator RO3, maka Indonesia bisa mengurangi ketergantungannya terhadap produk-produk alat kesehatan impor. Diketahui selama ini, ventilator yang diimpor Indonesia, memiliki usia yang tidak lama. Dalam waktu lima tahun, ventilator tersebut sudah harus diganti dengan ventilator yang lebih canggih.

Jika angka desimal tersebut di bawah 0,6 , maka prediksi GeNose tersebut lemah. Meski begitu, Dian menjelaskan hal ini sudah bisa diatasi dengan sistem ‘pendeteksi udara’ yang sudah terpasang di GeNose. Jadi, kata Dian, sebelum GeNose digunakan, alat itu akan mendeteksi kondisi udara di lingkungan sekitar secara otomatis, apakah kualitas udara di sini cocok atau tidak. Tapi, belum ada persetujuan dari regulator terkait untuk menjadikan alat berbasis pernapasan sebagai deteksi corona. BERITA DIY-Alat pendeteksi Covid-19 buatan UGM, GeNose akan mulai diterapkan untuk calon penumpang Kereta Api pada 5 Februari 2021 mendatang.

Comments are Disabled