Kumpulan Berita Alat Pendeteksi Virus Corona

Perlahan namun pasti, berbagai inovasi bermunculan untuk membantu penanganan pandemi virus corona ini. Mulai dari pembelian vaksin dan program vaksinasi, hingga produksi massal alat pendeteksi virus Covid-19. GeNose merupakan alat pendeteksi Covid-19 melalui embusan napas dan dukungan sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dikembangkan peneliti Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sementara CePAD mendeteksi Covid-19 dari tes antigen yang dikembangkan peneliti Universitas Padjajaran, Bandung.

Sebaliknya, hasil fast test COVID-19 negatif belum tentu menandakan bahwa Anda mutlak terbebas dari virus Corona. Bila Anda memerlukan pemeriksaan langsung oleh dokter, jangan langsung ke rumah sakit karena itu akan meningkatkan risiko Anda tertular atau menularkan virus Corona ke orang lain. Anda bisa membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi ALODOKTER agar bisa diarahkan ke dokter terdekat yang dapat membantu Anda. Bila Anda mungkin terpapar virus Corona tapi tidak mengalami gejala apa pun, Anda tidak perlu memeriksakan diri ke rumah sakit, cukup tinggal di rumah selama 14 hari dan membatasi kontak dengan orang lain.

Alat baru untuk deteksi covid

Namun, tetap alat ini perlu pengembangan teknolodi lebih lanjut agar maksimal dalam mendeteksi Covid-19 datal tubuh. Abbot, perusahaan kesehatan Amerika berhasil menciptakan alat pendeteksi virus corona. Karena itulah, sampai saat ini diagnosis Tembak Ikan Terpercaya infeksi virus corona masih mengandalkan tes PCR. Hasil tes PCR masih dianggap paling akurat untuk mendeteksi virus Sars-Cov-2–penyebab penyakit COVID-19–dalam tubuh.

Tujuan perancangan instrumen ini untuk membuat alat pendeteksi tsunami yang mudah diaplikasikan dan murah. Sama dengan RT-PCR, bahwa metode RT-LAMP juga membutuhkan sampel lendir yang diambil dari pangkal hidung dan pangkal tenggorokan pasien atau yang dikenal dengan swab take a look at. Serpong, Humas LIPI. Lembaga ilmu pengetahuna indonesia mengembangkan metode alternatif RT-PCR untuk mendeteksi COVID-19 yang bernama RT-LAMP pada program Laptop Si Unyil TRANS 7, Senin (7/9). Dengan alat yang sederhana, metode RT-LAMP mampu mendeteksi keberadaan material genetik virus dalam tubuh. Sunarno mengatakan alat deteksi gempa tersebut sudah memprediksi gempa tersebut tiga hari sebelum kejadian. Bahkan, di DIY sendiri alat ini sudah mampu memprediksi 3-7 hari sebelum kejadian gempa.

Selanjutnya, jika ada 10 ribu unit maka Indonesia akan menunjukkan jumlah tes Covid-19 per hari terbanyak di dunia yakni 1,2 juta orang per hari. Senada, Direktur Utama Kalbe Sie Djohan menyebut, hasil tes ini akurat dan relatif lebih nyaman saat digunakan dibandingkan dengan RT-PCR. Tak hanya itu, tes ini dapat dengan mudah dilakukan di laboratorium atau klinik pada umumnya. Ia khawatir tanpa publikasi yang memadai dengan standar ilmiah, dokter tidak bisa mendiagnosis karena tidak mendapat cukup penjelasan.

Kemudian, knowledge yang diperoleh akan diolah dengan bantuan kecerdasan buatan hingga memunculkan hasil. Jangan ragu untuk bertanya pada dokter melalui fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter. GeNose diklaim bekerja secara cepat dan akurat dalam mendeteksi VOC yang terbentuk karena infeksi corona.

Para peneliti Jepang itu merupakan gabungan peneliti dari Universitas Nagasaki, Canon Medical Systems dan Institut Penyakit Menular Nasional di Jepang. Alat tes baru ini diklaim akan lebih cepat dan efisien ketimbang alat tes yang ada saat ini. Tim dari ITB dan Unpad mengembangkan alat tes cepat micro-chip deteksi Covid-19.

Mengutip publikasi UGM, GeNose merupakan digital nose yang tersusun atas empat bagian, yaitu sistem sampling, sistem larik sensor fuel, sistem akuisisi information dan sistem pengenal pola. Cara kerja alat tersebut sama dengan hidung manusia, yaitu harus dilatih dan diuji. Tidak perlu waktu lama, hasil tes COVID-19 pun bisa didapat dalam waktu kurang dari dua menit. “Pemerintah memberikan apresiasi kepada tim GeNose dari Universitas Gajah Mada yang sudah bekerja keras untuk menciptakan inovasi ini dan membantu pemerintah dalam melakukan upaya 4T ,” ujar Luhut. Oleh karena itu, pola yang terbentuk dari embusan napas seorang yang terinfeksi Covid-19 akan berbeda dengan pola embusan napas orang sehat.

Tim pengembangan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan itu dipimpin langsung oleh guru besar dari Departemen Teknik Informatika ITS dan melibatkan mahasiswanya dari jenjang magister dan doktoral. “Alat ini lebih murah, akurasinya masih akan kita paralelkan namun sementara ini sudah menunjukkan hasil yang positif. Hasilnya bagus, bisa deteksi spesifik terhadap SARS Covid,” jelas Prof. Toto Subroto. Dilaporkan bahwa GeNose C19 telah melalui uji profiling, dengan menggunakan 600 sampel knowledge valid di Rumah Sakit Bhayangkara.

Comments are Disabled