Pak Ganjar Takjub, Alat Deteksi Covid

Ia mengatakan vaksinasi Covid-19 menjadi salah satu kebutuhan masyarakat, serta upaya pemerintah dalam pengendalian pandemi Covid-19. Hammam mengatakan, inovasi deteksi antibodi kuantitatif memiliki fungsi untuk mengukur kadar antibodi yang terbentuk setelah menjalani vaksinasi Covid-19. Bambang pun mengaku Kemenristek/BRIN siap mendukung tim UGM dalam melakukan uji klinis tahap II, karena menurutnya, uji klinis merupakan tahapan yang membutuhkan banyak biaya dan upaya, serta memiliki banyak tantangan. Menurut Bambang, pada dasarnya alat tersebut sudah siap untuk diproduksi masal maupun di pakai.

Satu unit GeNose dibandrol dengan harga Rp62 juta dengan harga kantong udara seharga Rp15 ribu per unit. Pemerintah kini telah memesan one hundred unit GeNose untuk didistribusi di sejumlah daerah. GeNose diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program 4T untuk menghentikan penyebaran COVID-19. “Apalagi kalau nanti dengan skala besar bisa lebih murah menjadi Rp15 ribu, jadi lebih terjangkau. Kami sudah pesan 200 unit untuk 44 titik stasiun di seluruh jawa dan sumatera,” lanjut Budi. Contohnya bandara, pelabuhan, stasiun, dan tempat lain yang rawan penyebaran covid dan dibutuhkan izin non reaktif covid untuk melakukan aktivitas.

Kit diagnostik yang dikembangkan berfungsi untuk mendeteksi virus Hepatitis B dan mengetahui keberhasilan imunisasi vaksin Hepatitis B, berupa perlindungan antibodi terhadap adanya infeksi virus hepatitis B. Dengan menggunakan equipment ini, status infeksi seseorang bisa diketahui dengan cepat dan akurat tanpa perlu lagi menggunakan package diagnostik impor yang harganya mahal. Prototipe Kit tersebut memiliki fungsi untuk mendeteksi KONG4D virus Hepatitis B dan mengetahui keberhasilan imunisasi vaksin Hepatitis B, berupa perlindungan antibodi terhadap virus hepatitis B. Acara FRLN ini dihadiri juga oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak, dan Menteri Keuangan Dr. Sri Mulyani Indrawati. Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan penggunaan GeNose sebagai alat tes syarat perjalanan masyarakat akan mulai dilakukan pada 5 Februari mendatang.

Ira juga mengatakan, Si CePAD berbeda dengan alat deteksi cepat konvensional yang mendeteksi molekul antibodi. Si CePAD mendeteksi molekul antigen, sehingga dapat lebih cepat mengidentifikasikan keberadaan virus pada tubuh tanpa harus menunggu pembentukan antibodi. “Nantinya biaya tes dengan GeNose C19 cukup murah hanya sekitar Rp15 sampai Rp25 ribu. Hasil tes juga sangat cepat yakni sekitar dua menit serta tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya,” ujarnya. Alat pendeteksi virus corona bernama GeNose, yang dibuat oleh para ahli dari Universitas Gadjah Mada , resmi mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan. Harga yang murah dan hasil tes yang cepat menjadi salah satu kelebihan GeNose.

Alat deteksi Covid murah

Tingkat Inti I, sabuk merah dengan simbol Merpati Putih dan berstrip putih di aib satu ujungnya. Semakin populer nama si pewaralaba, biasanya akan semakin mahal biaya kemitraan yang perlu dibayarkan setiap tahun. Bandingkan saja antara McDonald’s dan CFC, jelas finances waralaba McDonald’s lebih mahal karena pewaralabanya sendiri sudah berskala internasional. “Alat ini lebih murah, akurasinya masih akan kita paralelkan namun sementara ini sudah menunjukkan hasil yang positif. Hasilnya bagus, bisa deteksi spesifik terhadap SARS Covid,” jelas Prof. Toto Subroto.

Setiap orang yang akan diuji hanya perlu meniupkan nafas ke dalam sebuah kantong, kemudian kantong berisi udara tersebut akan disambungkan ke mesin untuk dianalisa. “Dari semua kelengkapannya terutama dari uji validasi membandingkan antara GeNose dengan PCR Test mereka sudah sampaikan hasilnya sangat baik di atas 90 persen,” ujarnya. GeNose sendiri mendeteksi udara yang dihembuskan pasien COVID-19 ke dalam kantong khusus.

Menurutnya dari 3000-an rumah sakit di Indonesia hanya rumah sakit tipe A yang mendapat bantuan alat ini dari pemerintah. “Kalau speedy check perlu ditusuk, kalau PCR harus mengambil cairan dari tenggorokan dan hidung yang rasanya kurang nyaman, tapi dengan GeNose tinggal menghembuskan nafas saja, langsung diperiksa ke mesinnya. Kemudian alat ini menggunakan pendekatan terakhir dalam teknologi yaitu AI dan kehebatan dari AI adalah semakin dia mendapatkan data yang lebih banyak, maka mesinnya makin pintar. Kuwat mengatakan setelah izin edar diperoleh dari Kementerian Kesehatan maka tim akan melakukan penyerahan GeNose C19 hasil produksi massal batch pertama yang didanai oleh BIN dan Kemenristek/BRIN untuk didistribusikan. Sebelumnya beredar informasi biaya tes dengan alat GeNose itu hanya sekitar Rp ribu dan hasil tes juga sangat cepat, yakni sekitar 2 menit serta tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya.

Comments are Disabled